(not) Good Mom

23.06… Piko, Aura dan El sudah tidur.

Saya masih termenung dalam kamar dengan perasaan yang campur aduk antara marah,sedih dan rasa sesal.

2-3 jam yg lalu,saya bukan ibu yang baik. Saya menyakiti lahir dan batin anak saya..aura.

Sepulang kerja pembantu saya memberitahu kl kakak pergi ke rmh neneknya (kebetulan rumah kami cukup dekat).

Karena sudah sampai rumah segera saya bbm piko untuk menjemput,namun sayangnya dia tidak pulang cepat. Namun piko sudah meminta omnya aura untuk mengantar pulang.

Magrib berganti isya..belum ada tampak kepulangan Aura.

cemas,jengkel dan PMS

cemas karena besok masih hari sekolah, karena kakak belum belajar,belum makan ketika berangkat di rumah. Cemas, karena sekolah Aura cukup berat (secara fisik, berangkat subuh pulang sore) .

Jengkel karena semenjak pulang kerja el juga rewel dan cengeng. Sehingga saya tidak bisa menjemput kakaknya.

Lalu terjadilah…

Begitu aura sampai rumah meledaklah amarah saya.

Tone suara yang tinggi, kata kata yang menusuk.

Saya tunjuk keningnya,saya pukul pipi dan pantatnya.

Ya Allah saya tidak dapat membayangkan seperti apa Aura menandang saya saat itu. Pastinya saya lebih menakutkan ketimbang perubahan dr Banner menjadi hulk.

Bukan bukan pukulan yang menyakitinya karena semarah apapun pukulan saya tidak pernah menggunakan tenaga full ( anak saya sering menertawakan pukulan maupun cubitan saya) .

Kata kata sayalah yang saya yakin mencabik jiwanya.

Saya tau tapi tetap melakukannya (untuk kesekian kalinya…)

SUSAH sangat menjadi orang tua…saya ingat ada seorang teman yg bercerita karena sering dipukuli waktu kecilnya, ketika besar untuk sekadar bercerita ataupun bersandar (bermanja manja) saja dia merasa aneh dan sungkan.

Meski ketika besar teman saya itu akhirnya tau penyebab ibunya sering memukul.

Saya tidak mau itu terjadi pada hubungan kami, saya mau anak anak tau kalau saya mencintai mereka.

Aura ..El mama minta maaf jika dalam menjadi ibu masih jauh dari sempurna.

Ya Allah tolong bantu saya…

 

 

 14 april 15

menulis sambil memandangi Aura dan El

 

KE PUSKESMAS YUUK

Karena batuk yang berkelanjutan hampir sebulan padahal sudah habis 2 botol obat batuk, berarti sudah saatnya aura ke dokter. Pagi tadi ketika sudah di boncengan Pinky hendak bersiap-siap berangkat ke rumah sakit langganan tiba tiba Aura minta untuk berobat ke Puskesmas saja. Apa ? ke Puskesmas…Hmm..Boleh juga. Saya belum pernah memperkenalkan anak-anak ke Puskesmas. Si Mpok yang mendengar permintaan Aura, sempat komentar ‘ngapain ke puskesmas kak? nanti rame antrinya lama, mending ke S..R. As.H saja sambil dia menyebut rumah sakit langganan keluarga kami.

Mumpung Aura yang kepengen, plus penyakitnya tidak terlalu berat, double plus ingin menambah pengalaman anak-anak maka saya memutuskan untuk mencoba mendatangi Puskesmas terdekat dari Rumah kami.

Sesampainya di Puskesmas saya tidak perlu banyak tanya dan bengang bengong lagi…karena di Puskesmas tempat kami sudah banyak rambu-rambu penjelasannya.Segera saja saya menghampiri loket pendaftaran, Oh ya loket pendaftaran dibagi dua. Satu untuk pasien lama, satunya lagi untuk pasien baru dan pasien lama yang tidak membawa kartu berobat.

 

puskesmas jatiuwung

tampak Depan Puskesmas

Alur berobat cukup jelas

pengalaman ke puskesmas

pengalaman ke puskesmas

 

Diloket saya ditanya nama orang yang berobat, umur dan keluhan penyakitnya lalu kami diminta untuk menunggu panggilan dokter(?) disisi samping kanan gedung. Sambil menunggu saya lirik kiri dan lirik kanan mengamati Puskesmas ini. Untuk kualitas kebersihan saya memberikan satu jempol karena Puskesmasnya cukup bersih ( relatif ya ukuran bersihnya Fasum untuk masyarakat menengah bawah) . Didinding bangunan ada tempelan hiasan yang cukup edukatif seperti dibawah ini 

zoom version

Aura sedang mengamati

 

di zoom

Dan ada pojok tanaman obat namun tidak sempat saya ambil gambarnya.

Penasaran karena antrian saat itu tidak sesesak yang saya bayangkan, saya tanya ke ibu-ibu disebelah : ” Bu, ini antriannya tidak terlalu banyak yaaa…?” Si ibu menjawab ” Kalau Sabtu memang sepi kok”..

puskesmas jatiuwung

puskesmas jatiuwung terlihat lengang

Hmm…ok. kalau RS langganan saya hari Sabtu malah berjubel.Berarti kalau puskesmas kebalikannya.

Sekitar 15menit dari mendaftar nama Aura di panggil Ke ruang pemeiksaan. Dalam ruang pemeriksaan berjejer meja periksa, ada 4 meja kalau tidak salah. Aura diminta duduk lalu ditanyakan keluhannya.Saya menjawab batuk lalu tenaga medis tersebut mengambil stetoskop dan mulai memeriksa Aura. Oh ya saya menyebutnya tenaga medis yaa.. karena saya tidak yakin kalau yang memeriksa di Puskesmas tadi dokter atau bukan. Lalu kami diberi resep yang dapat ditebus di apotek yang berada di sisi kiri gedung. Kurang dari sepuluh menit nama Aura sudah dipanggil dan diberikan 3 macam obat: antibiotik, Obat radang dan Obat batuk.

obat

obat

 Obatnya tablet semua.. kalau kaka ngga bisa minum alamat berobat lagi ke rumah sakit niih.

Keluar dari Puskesmas Lapangan sudah penuh tukang jajanan dan anak- anak SMP. Dasar tukang jajan …tergodalah saya.Bukannya langsung pulang.. saya malah membujuk anak-anak sambil setengah memelas. Mam dulu ya kak… laper nih mama belum sarapan. Eh tumben2nan kaka mau diajak nongkrong pinggir jalan. 

 

makan pinggir jalan

makan pinggir jalan

 

Lapangan depan kecamatan di penuhi anak-anak SMP, ternyata lapangan tsbt dipakai demo ekskul oleh salah satu  SMP di dekat situ. Dari announcement yang saya dengar sambil makan ada 14 jenis ekskul yang akan didemokan ke murid2 kelas 7. Keren juga ya sekolah negeri sekarang..

demo ekskul

demo ekskul

Kami sempat nonton 2 ekskul yang di demokan di awal yakni Karawitan dan pencak silat. Aura dan El baru pertama melihat kedua jenis kesenian ini, sedangkan saya……jarang jarang juga sih bisa lihat yang kaya begini.Hee

Jpeg Jpeg 

Bocah dua itu seantusias saya menyaksikannya..

  

Total uang yang saya keluarkan ke Puskesmas hari ini  Rp. 86.500

Laminating kartu berobat Rp.2.500

Mie ayam Banyumas Rp.19.000

Beli Buah-buahan Rp.65.000 ( pepaya  California,duku dan jeruk)

Biaya Berobatnya ? GRATIS.yeayyyy… Indonesia sudah keren euy sekarang minimal fasilitas medis awal seperti puskesmas ini gratis dan bebas pungli ( Saya saksi hidupnya niih).

 

Gratis, Tambah pengalaman dan Gembira karena ternyata kesehatan rakyat Indonesia sudah mulai terjamin.

Another Great Day ! Splendid.

Alhamdulillah.

 

special note :

Gigi aura yang sudah otek copot pas makan mie ayam

ompong lagee

ompong lagee

 

Lebaran, Ibu dan Belajar Masak

Tahun 2008 tiba – tiba saja saya tidak terlalu antusias menyambut  Hari Raya Idul Fitri. Saya masih ingat sekali malam takbiran di tahun itu, rumah rasanya sepi sekali cuma ada saya, suami dan anak saya yang belum genap setahun. Yup Tahun itu kali pertama saya berlebaran tanpa orang tua, Ibu saya meninggal hanya berselang 6 bulan setelah ayah meninggal.

Tanpa mengesampingkan esensi Agama di hari raya tersebut, tapi Hari Raya Idul Fitri di Indonesia tambah bermakna dengan adanya tradisi –  tradisi lokal. Kumpul keluarga besar, salam tempel, baju baru dan tentu saja masakan khas yang mungkin cuma muncul setahun sekali.

Masakan khas ini yang menjadi isu karena tak lama berselang dari kedua orangtua meninggal, saya langsung dihadapkan pada Hari raya idul Fitri. Terus terang saya untuk soal masak memasak  saya NOL besar. Punya ibu pekerja luar rumah serta beberapa pembantu di rumah membuat saya tidak pernah ‘menyentuh’ dapur. Sewaktu kecil jika mau bantu- bantu di dapur saya pasti diusir  karena dianggapnya bikin ribet. Saya tidak kenal bumbu dapur, mana jahe mana lengkuas. mana kencur mana kunyit. Begitu pula ketumbar dan lada yang bagi saya terlihat sama saja.wkwkwk. Pernah suatu hari saya hendak masak nasi di magic jar, alih alih menggunakan wadahnya saya malah langsung mengisikan nasi plus air ke dalam magic jar. Syukur sebelum saya colokan ke listrik kakak saya melihat dan segera mencegah saya. Kebayangkan bodohnya?

Syukur pada saat itu mpok (pembantu warisan ibu saya) masih kerja sama saya. Sebelum pulang lebaran mpok  saya minta tolong meracikkan bumbu untuk opor. Dengan bantuan mbah google saya pun mencoba untuk memasak. Tepat saat adzan magrib di malam takbiran saya bergegas mencicipi masakan perdana saya tersebut.Rasanya? pastinya tidak seenak opor buatan ibu saya. Tapi alhamdulillah piko masih bersedia untuk memakannya ( no choice sih ya.hihi).

Setelah lebaran lanjut belajar masak? ngga tuh… karena kebetulan saya dapat Ast Rt yang jago masak. Masalah masak – memasak ini  ya cuma timbul kalau mau lebaran pas mereka pulkam.

Jadi ga ada cerita lagi deh berlebaran pake sayur pepaya, bistik daging kuah tomat,opor, sambel goreng hati dan rendang hitam ala ibu saya. Yang tersedia hanya opor ayam, beef teriyaki ( masaknya ngandelin saus teriyakinya saori 🙂 ), serta tepung -tepungan(ex: udang tepung, ayam fillet tepung).

Suami protes? ngga tuh.. selain sabar dan memaklumi kapasitas istrinya. Kami juga sangat tertolong karena selalu numpang makan lebaran di rumah mertua. Hihi

Nah Sejak november lalu, baru pertama kali dalam sejarah saya sulit sekali dapat pembantu pengganti si mba yang pulang karena menikah. Tanpa pembantu, otomatis saya masak di warung ( tau kan maksudnya) menu warung ya gitu- gitu aja berputar – putar pecel ayam, sate, nasgor, mie goreng dan teman- teman lainnya yang digoreng.Boseeeeeeen, mau delivery ya ..bisa jebol kantong, ujung – ujungnya balik ke In.d.mie.

Lama- lama saya mikir (Akhirnya..) kasian juga anak-anak kalau saya terus-terusan masak di warung. Selain tidak bervariasi,kebersihannya pun diragukan. Saya pun berpikir lagi, hampir semua anak ketika besar pasti akan tergiang2 akan masakan ibunya.Pokoknya ngga ada yang lebih enak selain masakan emak! Jika saya tidak mulai belajar masak sekarang kelak apa yang bisa diingat anak saya tentang saya?? Bahwa Ind.m.e. buatan saya paling enak? Please deh!

Maka dimulailah petualang saya di dunia masak per masakan ini. Mulai dari beli bumbu dapur di supermarket karena kalau di supermarket pasti ada ‘judul’ nya sehingga saya ngga salah beli. Beli buku resep sampai berguru ke ‘mbah’ google.

Berbekal perkataan teman saya yang bilang “Bikin kue bisa gagal nic! dalam memasak tidak ada kata gagal yang ada ngga enak dan ini masih bisa diakali dengan menambah2 bumbu, yang penting lo coba pasti lama2 bisa!”.

Sampai bulan Februari ini , lumayan lah perbendaharaan menu saya sudah bertambah dan dari segi rasa sudah mulai membaik. Saya sudah berani bawa masakan rumah untuk dibawa ke kantor. Oh ya saya juga mengikutsertakan aura dalam petualangan saya ini dan sepertinya dia sangat suka.

Mudah-mudah kelak saya bisa menemukan signature dish saya  sehingga Aur’El bisa bilang: “ngga ada yang seenak masakan miko!”

Aamiin.

Kurangin ngemall yuuuuuk !

Ada yang suka ngemall ? kalau ada boleh donk kita toss dulu.hehe..

Sebenernya saya ngga addict2 banget sih ngemall, cuma wajib sabtu minggu dan kadang-kadang pada hari kerja (kalau piko ngga cape lagi bisa dirayu). Hobi belanja ? hmm..ngga juga, walaupun iya kayanya penghasilan saya ( yang hanya sedikit diatas UMK) mana bisa mensupport hobi yang satu ini.

Trus kenapa saya suka ngemall ? hmmm….coba kita telusuri. sepertinya perkenalan saya dengan pusat perbelanjaan di mulai sejak saya kecil. Dulu ibu saya pekerja luar rumah, bekerja di Bandara dengan jam kerja yang bisa bikin tepok jidat membuat ibu saya amat sangat memanfaatkan waktu liburnya. Saya ingat sekali setiap hari libur, ibu selalu bebenah rumah sampai tengah hari. Nyapu, ngepel sampai ngedecor rumah ( kerennya saking ahlinya ngedecor rumah kami jadi kaya baru terus). Nah abis dzuhur kita pasti jalan-jalan, jaman dulu di Jakpus kemana lagi kalau bukan ke Golden Trully atau ke Pasbar ( Pasar Baru). Seinget saya tiap jalan selain beli cemilan (cakwe,gorengan n  buah lontar pasbar paling maknyuss dah) barang wajib yang saya beli adalah buku. Jadi ya itu – itu aja kerjaan saya kalo ngemall..cm windows shop doangan..heee

Nah di akhir 2013 kemarin saya sempat berbincang-bincang dengan teman kantor saya. Dia cerita ada saudaranya yg baru  menjanda karena suaminya meninggal. Teman saya tsbt prihatin karena anak2 saudaranya itu masih saja menuntut untuk terus ngemall dan berpergian( ngga tanggung tanggung ke luar negeri booo!). Padahal semenjak Ayah mereka meninggal tentu saja pendapatan keluarga menurun drastis sehingga tidak mendukung untuk tetap mempunyai gaya hidup yg sama. Dan anak – anaknya tidak mau tahu akan hal ini. Sebenarnya bukan salah si anak sih, selain karena mereka masih kecil – kecil, tuntutan mereka pasti karena mereka sudah terbiasa dengan kondisi sebelumnya. Jadi intinya si Ibu harus merekondisi ulang kebiasaan dalam keluarganya yang tentunya tidak gampang 😦 . Kalau hal ini samap terjadi di keluarga saya ( lips sealed!!!)

Trus Akhir tahun lalu juga saya memcoba mereview kondisi keuangan keluarga kami, yang kalau ada sistem nilainya pasti saya dapat nilai D ( huahaha ngulang donk…). banyak Post pengeluaran yang amat sangat tidak berbentuk (ini kalimat apa sih? tepok jidat) yakni pengeluaran untuk makan. Kami sering banget jajan diluar ya karena sering ngemall itu. Padahal di rumah saya juga pasti masak.  Karena sudah makan di luar masakan di rumah pasti kebuang. Nah lo , dosa dua kali kan tuuuh !

Berdasarkan dua hal diatas dan aura yang sudah mulai ogah – ogahan kalau diajak ngemall  maka saya membuat resolusi baru di awal tahun ini : NGURANGIN NGEMALL

Yes saudara – saudara mumpung tahun baru semangat baru. Begini detail rencana saya:

Target : Tidak ngemall Hari Sabtu ( minggu masih ok lah)

Ngga ada deh alasan mau beli buah di Supermarket atau ngedate ama sicantik. Semuanya bisa dirapel di hari Minggu.

Caranya :

Supaya ngga tergoda keluyuran ngemall saya membuat beberapa daftar kegiatan yang bisa saya lakukan di rumah, misalnya :

  • Main sama anak ( menggambar, bikin kue,atau sekadar tidur siang bareng anak, hal yang ngga mungkin saya lakukan di hari kerja)
  • Beresin Rumah ( karena cuma ‘make’ rumah buat tidur jadi ya rumah saya alakadarnya, sabtu bisa saya pakai untuk berkebun,make over rumah, minimal lap – lap debu lah.hee)
  • Ngegame atau internetan ( browsing,nulis atau sekadar leyeh- leyeh main game yang ngga perlu mikir)

Reward : Saya Akan membeli Barang sesuai jumlah uang yang bisa saya hemat! Weits sama aja donk..keluar duit juga?? ngga lah kalau kaya gini kan pengeluarannya berbentuk.hihi alesan.

Punishment: Ngga usah mikirin hukuman karena kalau ngemall terus = duit abis = sudah terhukum dengan sendirinya.

Begitulah rencana saya saudara – saudara, dan sudah saya mulai dari awal Februari ini. Jalan dua pekan sudah saya lewati tanpa ngemall.Hanya saja ada yang saya modifikasi sedikit dari rencana saya. Untuk reward yang harusnya didapat dibelakang saya rada bandel dengan ambil di depan. Di Akhir Januari saya beli Smartphone dengan cara kredit! Yang mau ngga mau saya harus menghemat uang untuk membayar cicilan tiap bulannya. Smartphonenya terbukti mampu membuat saya melewati hari sabtu tanpa ngemall karena sibuk main candy Crush. Hahaha ketawa tricky..

Akhirul kata mungkin tulisan dan cara saya terkesan aneh dan tidak bermanfaat, tapi itulah saya dengan cara saya.

Aura, El nanti besar jangan tiru miko untuk hal yang ini ya..so Rubbish. Ngelirik Smartphone yang cicilannya setahun (Big Cry)

 

 

Things You Do Because of Age ( Arisan RT)

Setuju ngga kalau saya bilang ada hal-hal tertentu yang terkadang harus kita lakukan bukan karena kita mau/suka tapi karena faktor U.

Misalnya nih anti aging dan sunblok (ketebak deh umurnya….), jaman remaja dulu ( ngga tau deh kalau anak remaja jaman sekarang)  saya paling males deh yang namanya ritual oles2 gini. Cukup cuci muka, bedakan ma lipbalm lgs deh capcus.Karena faktor U itu tadi saya mulai memaksakan diri untuk memproteksi muka saya yang satu-satunya ini (yaialah..emang ada berapa mukanya ).

Nah hari minggu kemaren ada hal yang akhirnya ‘ terpaksa’ saya lakukan karena faktor penuaan ini yakni ikut arisan RT (wkwkwk….). Awalnya tumbuh dari kesadaran bahwa sebagai pekerja luar (ditambah sifat tidak  perhatian) menyebabkan  saya nyaris tidak mengenal sama sekali orang-orang di lingkungan rumah saya. Sadar diri  sudah berumah tangga dan memiliki anak, saya pun terdesak untuk segera bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.” Hitung-hitung nitip diri dan anak-anak” kata Piko. Dipikir- pikir iya juga sih kalau tetangga kenal dengan kita pasti akan lebih care dengan anak-anak kita.

Seminggu sebelum arisan, tetangga saya yang saya kenal karena anaknya satu sekolahan dengan Aura mengingatkan tentang acara ini. Perasaan saya? Nervous kaya orang mau sidang skripsi.. Serius saya sama sekali tidak punya clue tentang apa yang harus saya lakukan di acara itu.  Satu – satunya gambaran tentang arisan RT di kepala saya adalah gambaran yang saya peroleh dari sinetron-sinetron di tv. Yakni arisan yang dihadiri ibu-ibu “rempong”  berdandan heboh dengan topik pembicaraan seputar belongings (u know what i mean). Oh ya plus nada tawa yang melengking

Eng ing eng , datanglah hari yang dinanti bersiaplah saya menghadiri arisan itu. Jam tangan baby G yang sehari -hari saya pakai, saya ganti dengan jam tangan perempuan yang rada blink – blink (saya harap blink jam tangan ini cukup mengimbangi perhiasan para ibu-ibu itu nanti maklum selain ngga suka pakai perhiasan, saya memang tidak punya.heee). Tas slempang tengkorak teman setia saya  terpaksa istirahat dulu gantian dengan handbag merk yang sama dengan jam blink-blink saya tadi.

Sengaja datang telat ternyata rumah bu RT sudah ramai. Hmm.. sempat berpikir apa yang harus saya lakukan saat masuk akhirnya saya memutuskan untuk berkeliling cipika-cipiki pada semua orang yang ada disana (ibu-ibu loh ya..). Lalu duduklah saya…pasang senyum lebar…sesekali ikut tertawa pada joke yang saya sama sekali tidak mengerti ( tepok jidat).

Setelah mendengar kata sambutan ( dari beberapa orang) tiba – tiba ada sesuatu yang sama sekali tidak saya prediksi. Bu Rt meminta kami untuk berdiri bernyanyi. Bernyanyi  ? What the….??!! Serius ini… ada nyanyi2nya. Untungnya grup arisan saya cukup terorganisir tak lama kemudian dibagikan lembaran kertas yang isinya teks lagu yang akan dinyanyikan. Ada dua lagu yang dinyanyikan yakni Mars PKK

dan lagu Hatinya PKK ( maaf ngga bisa dicantumkan liriknya, habis saya tidak bisa menemukannya di internet).

Belum habis terkejut karena harus nyanyi-nyanyi, saya shock lagi begitu melihat daftar anggota arisan yang terdiri dari 23 orang.Weksssss berarti saya harus melakukan hal-hal seperti ini sampai hampir 2 tahun yang akan datang.

Kapok nih jadinya? ngga kok…walaupun belum bisa menikmati acaranya tapi saya memukan hal – hal bermanfaat dari acara ini, misalnya :

– Silahturahmi , mudah-mudahan dihitung Allah sebagai amal baik ( asal ngga kejebak ngegosip aja.hihi)

– Saya menemukan talenta yang tidak saya kira sebelumnya, misalnya suara ibu- ibu disini bagus-bagus sekali. ada yang pandai menyulam ada yang bisa quilting ( eh bener ngga tulisannya) dan mereka mau mengajarkannya kepada siapa saja yang berminat. Padahal selama ini saya selalu cari kursus ketrampilan semacam ini di Tangerang  ngga pernah dapet- dapet. Eh kok ujug-ujug malah tetangga sendiri yang nyediain kursus .Gratis pula yeayyy dancing all night long nih saya.

– Saya bisa petualangan kuliner…hehe baru pertama kali ikutan saja perbendaharaan kuliner saya sudah nambah. Ibu RT saya kemarin menyuguhkan mi rebus ala Bangka Belitung.Mirip mi kocok Bandung hanya saja isinya Seafood..Kuahnya pun dari kaldu udang.nyammmm

Pengalaman ikut arisan kemarin merupakan pelajaran telak bagi saya, kalau kata orang bule Don’t Judge a book from its cover atau versi religiusnya mengutip ayat Quran seperti ini

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan janganlah pula perempuan mengolok-olok perempuan yang lain, karena boleh jadi perempuan (yang diolok-olokan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan jangan memanggil dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (Qs. Al hujurat:11)

 

Tuh kan…. tidak ada yang percuma 🙂

Dapat satu ilmu lagi. Alhamdulillah.

So…what do you do because of your age ???

Kakak yang suka menulis surat

Salah satu ajaran baik yang diterapkan orang tua saya dalam mendidik anak adalah mereka mendorong anak-anaknya untuk dapat mengutarakan pikiran/pendapatnya. Kami dapat mengungkapkan apapun kepada beliau bahkan ketika pikiran dan pendapat kami bersebrangan dengan papa-mama. Walaupun suami saya datang dari keluarga yang orang tuanya otoriter kami sepakat untuk menerapkan hal ini dalam keluarga kecil kami.

Maka mulailah kami membiasakan anak kami untuk berpendapat, yang pertama yang kami lakukan adalah memberikan Aura hak untuk memilih sejak dia bisa berbicara. Mulai dari hal- hal kecil seperti memilih makanan, mainan atau barang- barang yang ingin dimilikinya. Setiap kali memberikan pilihan saya selalu berusaha menjelaskan terhadap hal-hal yang dipilihnya, tentang plus dan minus dari setiap pilihan.

Contohnya : Ketika jalan – jalan ke mall dan aura ingin membeli buku, saya akan membiarkan dia untuk pilih- pilih sendiri buku yang akan dibelinya. Biasanya beberapa saat kemudian dia akan membawa setumpuk buku dan menghampiri saya..”Aura boleh beli ini mah ?”. Bila terlalu banyak saya akan suruh sortir lagi buku-bukunya. Untuk memudahkan dia mensortir biasanya saya akan memberitahukan tentang harga buku dan apakah Aura sudah memiliki buku yang yang serupa di rumah. Misalnya, ada satu buku yang mahal katakanlah BUKU A (yang menurut saya tidak setimpal dengan harganya, saya akan bilang kalau beli BUKU A aura bisa beli BUKU B yang seperti itu tiga buah. Biasanya kakak akan termenung sebentar, ada kalanya dengan cepat ia membeli BUKU B karena bisa beli banyak namun kadang juga dia akan bertahan memilih BUKU A. Bila tetap memilih BUKU A biasanya akan saya tanya sebabnya, saya biarkan dia berargumen. Kalau Argumennya bagus dan dapat diterima saya akan membelikannya BUKU A tsbt.

Ketika memutuskan untuk mengajarkan anak agar berani mengungkapkan pendapat, kami sadar konsekuensi yang akan kami terima.

Pertama, Bagi sebagian orang cara kami ini sedikit janggal, orangtua akan terlihat tidak ‘berkuasa’. contohnya ada beberapa baju dan sepatu Aura yang saya beli tidak pernah dipakai sekalipun hanya karena saya tidak meminta pendapatnya.(Sedih ya….Selain sayang uang, menurut saya baju dan sepatunya lucu loh).

Kedua, apapun itu proses pengambilan keputusan akan melalui jalan yang panjang. karena melalui proses diskusi dulu. Tidak seperti pada sebagian hal yang dilakukan orang tua yang menjadi pemegang keputusan tunggal. Mereka tinggal menurunkan titah sakti yang harus dituruti anaknya.

Walaupun sedikit ribet dan turun pamor, kami rela menggambil konsekuensi ini. Karena setiap keputusan yang dihasilkan akan menjadi komitmen bersama dan tidak ada pihak yang salah-salahan. Seperti ketika memilih Sekolah Dasar beberapa waktu lalu saya ajak Aura untuk mensurvei tiap-tiap sekolah, memunjukkan plus minusnya. Sehingga saya berharap kelak ketika menjalani sekolahnya Aura akan menjalani dengan sepenuh hati karena sekolah itu adalah hasil pilihannya.

Nah akhir-akhir ini semenjak kemampuan menulisnya berkembang baik, Aura mulai suka mengungkapkan perasaan dan pendapatnya dalam bentuk tulisan. Beberapa beberapa surat-surat pendek mulai dibuat olehnya..

Seperti dibawah ini :

surat aura 1

Surat Diatas kami dapat ketika kami habis mengajak aura liburan.

surat aura 2

Aura membuat sendiri kartu ucapan ulang tahun untuk temannya

atau ketika Aura sedang mengerjakan PR dan menuliskan tanggal, si mba menggodanya berkali-kali bahwa ini bulan tiga iso Maret.Merasa kesal Aura pun meneriaki mbanya. Sebagai informasi di rumah kami sebisa mungkin ‘tone’ tinggi dihindari.

Pagi2nya Aura langsung memberikan ini ke si mba

Jati Uwung-20130328-00669

Apapun medianya kami senang kakak sudah bisa mengungkapkan apa yang dirasakan dan dipikirkannya. Alhamdullilah.

Khawatir ? jangan lebay ah

Dulu saya tidak pernah mengerti kenapa mama sebegitu paniknya jika saya pulang telat. Kenapa selalu menelpon menanyakan keberadaan saya. Sekarang saya mengerti…

Banyak hal yg dapat membuat kita khawatir dalam hidup ini, terutama ketika menjadi orang tua. Mulai dari fase kehamilan (Apakah janin saya sehat? Perkembangannya normal?). Proses kelahiran (Bagaimana posisi janin? Uang untuk melahirkan? Sanggupkah melahirkan normal?) sampai ketika anak terlahir pun akan lebih banyak kekhawatiran orang tua (Apakah anak saya bisa berjalan, berbicara, apakah anak bisa mengikuti pelajaran sekolah, apakah saya mampu membiayai sekolahnya dll). Hayooo….siapa yg  ngalami hal diatas acung jari ??

setidaknya itu hal- hal yg sudah saya alami. Anak tertua saya berumur 5 thn dan saya yakin semakin besar dia akan semakin banyak kekhawatiran saya (Apakah akan mendapat jodoh yg baik misalnya..hehe).
Saya tidak bisa membayangkan kalau ada orang tua yang tidak mengkhawatirkan anaknya (kalau ada kasih tahu saya !! ).

Khawatir dalam wiktionary didefinisikan sebagai :
Takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti.

Sebagai orang yang (pernah) belajar psikologi saya tahu rasa khawatir tidak lepas dari pengharapan.Dan pastinya pengharapan orangtua terhadap anaknya sangatlah besar. Semua orang tua pasti menginginkan agar anaknya bisa lebih baik dari dirinya.
Rasa khawatir bukanlah hal yang buruk menurut saya,asalkan kita tidak menjadi parno-an dan dapat mengarahkannya ke hal yang positif.

Sebenarnya rasa khawatir dapat memacu respon psikologis menjadi lebih aware/siaga.Nah..rasa siaganya ini yang perlu kita kembangkan..agar rasa khawatir ini bisa menjadi hal yg positif.

Misalnya begini : Habis membaca artikel tingkat kenaikan biaya pendidikan saya langsung khawatir apakah saya bisa menyekolahkan anak-anak saya sampai tingkat universitas?? ya khawatir lah wong uang di bank numpang lewat hanya untuk membiayai kehidupan sehari-hari dan membayar cicilan hutang kami.hehe.
Khawatir? Ya! Parno? No way !!
Daripada ngga bisa tidur mikirin ngga bisa nguliahin anak, mending saya ngga tidur karena browsing cari tips menyiapakan dana sekolah anak (nyengir lebar)

Karena khawatir, saya lebih aware terhadap dana pendidikan shg berusaha cari tahu cara efektif menyiapakan dana sekolah anak dan berusaha menyisihkan uang dari penghasilan kami yang tidak seberapa ini.
Saya belum tahu apakah yang saya lakukan ini akan efektif pada saatnya anak – anak saya membutuhkan uang utk sekolah nanti,setidaknya sudah ada langkah real utk melawan kekhawatiran saya 🙂

Jadi ngga boleh khawatir ?? Boleh kok .. kan memang hidup tidak selalu mulus ,things are not always as expected.

Asal… kalau sudah khawatir cari solusinya. Quotes kerennya “When it Rains, look for Rainbow. when its Dark look for Stars” (ini copas dari DP BBM teman. hehehe)

mau saran yang agak religius  ?

Setahu saya Muslim tidak boleh khawatir berlebihan , karena Masa depan adalah kepunyaan Allah. Apa-apa yang terjadi pada kita telah dituliskan olehNYA bahkan sebelum kita diciptakan. Khawatir berlebihan menurut saya sama saja tidak percaya sama kesempurnaan rancang bangun hidup kita yang dibuat Allah. Tugas kita hanya berusaha dan bersabar.

Dan sungguh kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan,kelaparan,kekurangan harta , jiwa dan buah-buahan dan berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. ( QS : Al Baqarah :115 ).