(Maju mundur) BISMILLAH

Maju mundur syantikkk… ahaaai seandainya hidup semulus syahrini tentunya semua keputusan akan mudah dibuat. mau maju .. mau mundur tetap syantikkkk ( Apalagi dese lari marathon kali ye ??lol). Sayangnya hidup lebih sering seperti warkop DKI yang maju mundur kena. Maju salah mundur juga salah!

Maju mundur versinya Warkop DKI ini yang saya rasakan dua tahun belakangan. Kalau teman-teman dekat saya pasti ngerti sebabnya, pokoknya kalau di kantor saya sudah kerja sambil pake headset atau nyetel lagu ngebeat yang mana satu lagu diulang seharian atau kalau lagi pasang DP BBM ini

151633-Whenever-I-Have-A-Problem-I-Sing

Atau kalau saya mulai PDKT kasak kusuk sama semua orang. Yes ,they know! My friends know. Itu tandanya saya lagi punya problem dengan most wanted profession. ART !!

Mau Tanya ke OB kantor,teman, tukang dagang keliling, ke saudara, keART tetangga. Mau cari ke kampung, ke makelar, ke yayasan ( gajinya beda tipis sama gaji diriku.hiks), ke gunung! Eh seriusan ini..pernah nyari ke gunung segala diriku..meski gunungnya di puncak Bogor sama Lembang Bandung sih ( ngga mau rugi bo! sekalian liburan). Hasilnya ..NIHIL

art

Kerja kantoran plus harus full pegang kerjaan rumah capeknya double , namun karena sudah 2 thn on off ngga ada ART akhirnya terbiasa juga. Meski kadang mewek, sensi plus galaknya minta ampun kalau capeknya tidak tertahan.

Tapi dalam dua tahun itu ada yang saya tidak kunjung jadi biasa, yakni perasaan bersalah ketika harus menitipkan anak ke mertua. Sedih sekali rasanya pagi- pagi kami harus memboyong si kecil ke mertua. Membawakannya baju dan makanan seadanya, menjemput anak-anak kala malam sepulang kerja. Gotong sini- gotong sana seperti barang.

Dan sesampainya dirumah baru saya keluar dari kamar mandi membersihkan diri, anak-anak sudah tidur dengan pulasnya di lantai ruang tv (Di rumah mertua ada sepupunya jadi mereka jarang tidur siang). Belum makan malam, belum belajar dan belum ISYA! Ya Allah 😦

Belum lagi jika harus memikirkan mertua yang sudah sepuh harus merawat cucu-cucunya. Total 7 orang cucu jika Aura dan el ikut dititip. Rasanya ko tidak manusiawi. Saya saja tidak akan sanggup kalau harus menjaga anak sebanyak itu

2 tahun dalam dilema. Tetap harus bekerja karena suami belum mengijinkan berhenti, karena meski off (ilang ART) lalu  on(dapat ART) lagi, dan pastinya karena masih banyak CICILAN !

cicilan

Berhubung gaji suami hanya cukup untuk kebutuhan RT dan semua jenis cicilan dibayar oleh pendapatan lain- lain suami. Makanya saya harus tetap kerja, sebagai buffer keuangan keluarga. Berdoalah saya kepada Allah, kira-kira seperti ini “Ya Rab,jika Engkau lebih ridho saya di rumah dan mengurus full kedua anak hamba. Mohon beri hamba waktu setidaknya sampai cicilan kami selesai dulu”

Lalu On lah, dan diawal 2015 cicilan kami sudah jauh berkurang. Tiba – tiba OFF lalu saya ingat doa saya, ketika “situasi Off”. apakah ini pertanda? Apakah Allah ingin menyindir saya..” Ayo Monic, mau kasih alasan apa lagi?”

Sulit untuk meyakinkan piko, butuh berkali2 diskusi dan pedebatan yang alot dengan piko, sampai akhirnya dia memberi ijin.

Tapi lebih sulit lagi bagi saya untuk meyakinkan diri sendiri. Rasa takut akan bosan di rumah,takut kehilangan pride wanita bekerja dan khawatir akan hal- hal yang sifatnya materil.

Berikut hal-hal yang menguatkan saya untuk berani memutuskan kembali di rumah :

  • Ada peristiwa di kantor yang membuat saya berpikir ulang tentang interaksi pria-wanita yang karena frekuensi (dan godaan setan tentunya) bisa berakibat fatal. Naasnya para pelaku peristiwa ini adalah orang yang (dulunya) saya hormati dan orang yang cukup dekat dengan saya. Selama 2 tahun merasa terbebani perasaan dosa karena harus menyimpan kecurigaan sampai akhirnya terjawab dengan peristiwa yang tidak mengenakkan.
  • (Tanpa mengurangi rasa syukur) Pekerjaan saya hanya pekerjaan biasa. Level menengah di perusahaan menengah dengan gaji yang juga ditengah-tengah 🙂 Jika mau fair hitung2an buat apa penghasilan saya bekerja ( selain urgensi buffer cicilan) ya habisnya buat seneng2 ngga penting. Jadi kesannya saya kerja buat lari dari anak bukan buat anak. lah wong tidak ada major forcenyanya.
  • Karena gaji saya di tengah2 , saya pikir masih banyak alternatif buat saya untuk bisa dapatin uang segitu. Setidaknya setengahnya.hehe
  • Si kecil El sudah masuk TK, kalau off siapa yang bisa antar jemput dia sekolah? Apa harus Off sekolah juga?
  • Meski On Off, saya punya feeling kalau masalah ini adalah masalah abadi ( malah yakin kalau kedepannya akan lebih sulit). Kesel ngga sih? Kalau punya masalah satu tapi bertahun-tahun ngga solve!
  •  Oleh karena Einstein bilang :”Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different result” Maka membuat terobosanlah saya dan memberanikan diri utuk Resign dan mencoba peruntungan lain. Bila bosan? gagal? atau takdir mengharuskan saya cari cari kerjaan lagi?

Well ..

I’VE GOT NOTHING TO LOSE

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Untuk menjawab ketakutan saya akan tulis detail disini

 

 

 

 

 

Note:

ditulis 3 januari 16

Resign 8 januari 16 (surat dr nov)

Terbit 29 feb 16

 

Iklan