Tested,Failed and Learn (hopefully)

Awal Januari ini saya dapat rejeki. Rejeki yang 3-4 tahun lalu sempat saya idam – idamkan, yang 1-2 tahun lalu sudah saya lupakan. Lalu tiba- tiba dapat. Perasaan saya? Biasa aja.. wong sudah kelamaan dari saat pertama kali kepengen. Hehe. Entah kenapa saya malah merasa terbebani..mungkin karena merasa bahwa ini bukan suatu pencapaian, tapi bagaimanapun rejeki tetap rejeki, suatu nikmat yang patut disyukuri karena banyak hal baik menyertainya.

Maka ( mencoba) bersyukurlah saya, menyumbangkan sedikit dari yang saya punya untuk pembangunan masjid di kompleks. Dan karena ketika saya dapat rejeki itu diumumkan secara khusus pada suatu acara kantor  yang mana daripada (kalimat opo siih iki) bikin seluruh teman kerja tahu. Dan Nodong !!

Mau ngga mau.. ada ngga ada.. harus diadakan. Saya harus berbagi rejeki! Berbagi kebahagiaan ceritanya. .( which is i like the idea)

Disini UJiannya!

Dengan sisa uang yang ada, saya titip kue ke teman kantor yang kebetulan punya usaha tersebut untuk dibagikan ke teman-teman. Sebenarnya sih saya nitip karena saya terlalu malas untuk mampir ke toko kue dan bawa- bawa gembolan ke kantor. Jadi saya nitip ( yes i’m lazy)

Gara-gara malas, saya jadi kepikiran untuk ngetes sifat buruk lainnya. Ria! saya pengen tahu seberapa jauh saya bisa humble. Seberapa jauh saya bisa ikhlas saat memberi.

So, saya titip pesan ke teman saya agar jangan sampai ada yang tahu kalau kue itu dari saya. Teman saya menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Tidak ada yang tahu, dia Amanah!

Jadi Pagi hari ini ruang rekreasi kantor kami sedikit heboh. Heboh karena di Senin pagi yang dingin sehabis diguyur hujan ada aneka kue. Heboh karena teman- teman bertanya-tanya dalam rangka apa teman saya si pengusaha kue itu membagikan kue.

Sampai sini ?

Aman. Saya masih bisa tahan, masih bisa acting kegirangan ada yang bagi makanan.

Beberapa jam kemudian..

Teman saya itu BBM, ” Mba, aku ngga enak nih.. jadi banyak yang ngucapin selamat”.

 

Lalu saya galau.. saya iri, i want take some credits. Meski saya masih bisa membalas BBM dengan kata-kata ” ngga apa-apa mas..banyak yang doain kan bagus”.

Tapi saya mau!!! Saya mau didoain! Saya mau dengar kalimat – kalimat bagus ditujukan kepada saya.

Dan saya GAGAL!

Saya bercerita ke salah satu teman di dept saya, bahwa kue itu dari saya.

 

Masygul.

Saya gagal diujian sederhana ini. Beberapa lembar uang ribuan telah membuktikan kualitas saya. Tukang Pamer!

Saya mungkin pernah berhasil menyumbang tanpa ada orang yang tahu ( ke masjid misalnya), tapi itu kan karena saya tidak lihat reward instan (pujian dan doa) yang menyertainya. Begitu saya lihat ya gagal.

Kasih  sedikit berharap banyak.

Uang receh pengen ditukar doa!

Meski cuma ke satu orang, saya tetap gagal.

Ya Allah hinanya diri ini. Saya ingin jadi orang baik..bukan yang terlihat baik.

Simple test, yet i failed. Pelajaran berharga, smoga saya benar- benar belajar. Bismillah.

Kapan-kapan coba test lagi yuuk!

 

Note :

Lebih lengkap tentang ria bisa dibaca disini

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Tested,Failed and Learn (hopefully)

  1. Khan ke gue juga ke ceplos bu.. hiks..hiks dan akhirnya itu kue kita tahu dari mana. Awalnya kita bepikiran si pengusaha kue ini promosi. Secara bagian ENG itu konsumtif banget dibandingkan departemen lain.

  2. huaahaha.ke eng keceplosnya kan cuma bilang ada yang gratisan ngga akhir2 ini.hee
    yah begitulah nel…ikhlas itu susaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah pake bangets

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s