Lebaran, Ibu dan Belajar Masak

Tahun 2008 tiba – tiba saja saya tidak terlalu antusias menyambut  Hari Raya Idul Fitri. Saya masih ingat sekali malam takbiran di tahun itu, rumah rasanya sepi sekali cuma ada saya, suami dan anak saya yang belum genap setahun. Yup Tahun itu kali pertama saya berlebaran tanpa orang tua, Ibu saya meninggal hanya berselang 6 bulan setelah ayah meninggal.

Tanpa mengesampingkan esensi Agama di hari raya tersebut, tapi Hari Raya Idul Fitri di Indonesia tambah bermakna dengan adanya tradisi –  tradisi lokal. Kumpul keluarga besar, salam tempel, baju baru dan tentu saja masakan khas yang mungkin cuma muncul setahun sekali.

Masakan khas ini yang menjadi isu karena tak lama berselang dari kedua orangtua meninggal, saya langsung dihadapkan pada Hari raya idul Fitri. Terus terang saya untuk soal masak memasak  saya NOL besar. Punya ibu pekerja luar rumah serta beberapa pembantu di rumah membuat saya tidak pernah ‘menyentuh’ dapur. Sewaktu kecil jika mau bantu- bantu di dapur saya pasti diusir  karena dianggapnya bikin ribet. Saya tidak kenal bumbu dapur, mana jahe mana lengkuas. mana kencur mana kunyit. Begitu pula ketumbar dan lada yang bagi saya terlihat sama saja.wkwkwk. Pernah suatu hari saya hendak masak nasi di magic jar, alih alih menggunakan wadahnya saya malah langsung mengisikan nasi plus air ke dalam magic jar. Syukur sebelum saya colokan ke listrik kakak saya melihat dan segera mencegah saya. Kebayangkan bodohnya?

Syukur pada saat itu mpok (pembantu warisan ibu saya) masih kerja sama saya. Sebelum pulang lebaran mpok  saya minta tolong meracikkan bumbu untuk opor. Dengan bantuan mbah google saya pun mencoba untuk memasak. Tepat saat adzan magrib di malam takbiran saya bergegas mencicipi masakan perdana saya tersebut.Rasanya? pastinya tidak seenak opor buatan ibu saya. Tapi alhamdulillah piko masih bersedia untuk memakannya ( no choice sih ya.hihi).

Setelah lebaran lanjut belajar masak? ngga tuh… karena kebetulan saya dapat Ast Rt yang jago masak. Masalah masak – memasak ini  ya cuma timbul kalau mau lebaran pas mereka pulkam.

Jadi ga ada cerita lagi deh berlebaran pake sayur pepaya, bistik daging kuah tomat,opor, sambel goreng hati dan rendang hitam ala ibu saya. Yang tersedia hanya opor ayam, beef teriyaki ( masaknya ngandelin saus teriyakinya saori 🙂 ), serta tepung -tepungan(ex: udang tepung, ayam fillet tepung).

Suami protes? ngga tuh.. selain sabar dan memaklumi kapasitas istrinya. Kami juga sangat tertolong karena selalu numpang makan lebaran di rumah mertua. Hihi

Nah Sejak november lalu, baru pertama kali dalam sejarah saya sulit sekali dapat pembantu pengganti si mba yang pulang karena menikah. Tanpa pembantu, otomatis saya masak di warung ( tau kan maksudnya) menu warung ya gitu- gitu aja berputar – putar pecel ayam, sate, nasgor, mie goreng dan teman- teman lainnya yang digoreng.Boseeeeeeen, mau delivery ya ..bisa jebol kantong, ujung – ujungnya balik ke In.d.mie.

Lama- lama saya mikir (Akhirnya..) kasian juga anak-anak kalau saya terus-terusan masak di warung. Selain tidak bervariasi,kebersihannya pun diragukan. Saya pun berpikir lagi, hampir semua anak ketika besar pasti akan tergiang2 akan masakan ibunya.Pokoknya ngga ada yang lebih enak selain masakan emak! Jika saya tidak mulai belajar masak sekarang kelak apa yang bisa diingat anak saya tentang saya?? Bahwa Ind.m.e. buatan saya paling enak? Please deh!

Maka dimulailah petualang saya di dunia masak per masakan ini. Mulai dari beli bumbu dapur di supermarket karena kalau di supermarket pasti ada ‘judul’ nya sehingga saya ngga salah beli. Beli buku resep sampai berguru ke ‘mbah’ google.

Berbekal perkataan teman saya yang bilang “Bikin kue bisa gagal nic! dalam memasak tidak ada kata gagal yang ada ngga enak dan ini masih bisa diakali dengan menambah2 bumbu, yang penting lo coba pasti lama2 bisa!”.

Sampai bulan Februari ini , lumayan lah perbendaharaan menu saya sudah bertambah dan dari segi rasa sudah mulai membaik. Saya sudah berani bawa masakan rumah untuk dibawa ke kantor. Oh ya saya juga mengikutsertakan aura dalam petualangan saya ini dan sepertinya dia sangat suka.

Mudah-mudah kelak saya bisa menemukan signature dish saya  sehingga Aur’El bisa bilang: “ngga ada yang seenak masakan miko!”

Aamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s