Tinggal Bersama Family di Satu Rumah

Gara – Gara Mbah (di) resign (kan) karena kesehatannya yg tidak memungkinkan untuk mengasuh El dan tidak kunjung datang dapat pengganti mba Yanti yang sudah pulang awal Oktober ini plus El yang langsung drop kesehatannya karena harus digotong – gotong tiap hari untuk dititipkan ke rumah kakek-neneknya. Plus ngliat istrinya yang  kalau udah kecapean jadi cengeng (ini air mata udah kaya plafon bocor tau tau netes).

Akhirnya piko ambil keputusan untuk meng’import’ adik perempuannya sementara ke rumah kami sambil kami mencari – cari  pengganti mba Yanti. maka resmilah bertambahlah penghuni rumah kami dua orang, Adik suami membawa satu orang anaknya untuk ikut tinggal bersama kami.

Setelah sebulan menjalani, memang tinggal serumah dengan family susah susah gampang. Sebelumnya saya sudah sering mendengar banyak keluh kesah dari teman kerja saya yang masih tinggal seatap dengan orang tua atau mertua yang mengeluhkan permasalahan tinggal bersama ini. Ada yang merasa tidak bebas, ada yang merasa anaknya bertingkah laku tidak sesuai dengan norma – norma yang ingin ditanamkan olehnya, belum lagi seorang teman yang memang tidak suka dengan personil di keluarga suami ( weks..)

Kalau Saya ?? selama sebulan ini yang saya jalani saya merasa boros.hehe. Yaiyalah wong personilnya nambah.Mulai dari air galon yg (amat) sangat cepat habis , cemilan di kulkas yg  magically disappear ( hihi). Budget ngebakso membengkak 40%. Saya harus mikir 2x kalau mau makan diluar.

Berhubung kami orang pas2an gajian pembengkakan pengeluaran ini sempat membuat saya kewalahan. Saya harus berpikir ekstra mencari cara untuk meredamnya. Mulai dari masak air untuk minum sampai mengatur menu masakan rumah.

Karena masalah yang timbul tidak personil sifatnya  dan masih bisa diakal -akali ( baca : dicarikan jalan keluarnya). Pengalaman tinggal bersama keluarga ini tidak jadi masalah buat saya.

Memang sih saya sempat tidak terbiasa melihat keponakan  ‘super aktif’ dan ada beberapa sifatnya yg mengkontaminasi anak saya. Tapi semua itu bukan apa apa dibanding kebaikan adik ipar saya yang mau  ‘meninggalkan kehidupannya’ untuk membantu keluarga kami. Meski terkontaminasi anak saya dapat nilai plus belajar bersosialisasi.

Dari pengalaman ini, saya dapat pembelajaran  untuk hidup bersama kuncinya tenggang rasa dan lihat sisi positif family yang tinggal bersama kita. jika ada yang tidak sreg sebisa mungkin jangan terbawa emosi, bila memang mungkin untuk dibicarakan ya dibicarakan.

Apabila tidak dapat dibicarakan dan dicarikan solusinya ya pilihannya cuma take it or leave it.

sedekah kemana ?

November lalu ramai diberitakan di media massa tentang kakek pengemis di pancoran yang tertangkap lalu ditemukan uang sebesar 25 juta dalam gerobaknya,kabarnya uang itu didapatkannya hasil dari beberapa hari kerja  mengemis saja. Weks..ngences mendadak .Uang semua itu (melongo) ? . Saya jadi ingat dulu kalau tidak salah ada seorang peneliti yang pura – pura jadi mengemis di sebuah perempatan jalan, tidak sampai seminggu sudah bisa membeli kendaraan. Nelen ludah lagi kan ??!  Mau yang lebih WOW… baca disini! 65 juta sodara -sodarah ..bener ngga salah baca kok.

Nah setelah pemberitaan heboh tentang kakek Walang si pengemis tajir itu, di daerah tempat kerja saya ada pengemis baru.Seorang ibu membawa anak yang umurnya sekitar kurleb 2 tahunan lah. Pagi – pagi saya berangkat kerja si ibu ini sudah duduk dengan manisnya di trotoar jalan berduaan dengan anaknya (hmm brangkat dari rumah jam berapa ya itu ibu?). Sebenarnya saya pengen foto itu ibu trus saya upload disini, tapi gimana cara ambil fotonya biar ga ketauan ( garuk – garuk). Saya deskripsiin saja yaa.. Jadi tiap hari mereka ngemis di pinggir trotoar, si ibu duduk dan anaknya biasanya rebahan/ tiduran di pangkuan ibunya. Pakaiannya kumel dan membawa gembolan. Uniknya si ibu pengemis ini berjilbab namun jilbabnya tidak dipakai dengan benar melainkan dipakai asal sehingga menutupi seluruh mukanya.

Saya perhatikan di kawasan  tempat saya bekerja itu banyak yang dermawan, banyak sekali pengendara yang berhenti untuk memberikan uang maupun makanan. Entah kenapa meski sejak awal saya sudah curiga dengan cara dia memakai jilbab, saya tetap punya niat bahwa suatu saat saya akan berhenti untuk bersedekah kepadanya sambil ingin menasehatinya bahwa tidak baik seorang anak di pinggir jalan seharian karena debu jalan pasti akan merusak paru – parunya  (saya juga berencana memberikan masker untuk si anak).

Hingga suatu sore saya pulang agak telat dari kantor, sempat terbersit untuk berhenti jika si ibu itu masih ada. Ealaaaah. kok tidak berapa jauh dari tempat biasa dia mangkal saya liat ada motor bebek ( masih kinclong bgt ) berhenti skitar semeter dari tempatnya mangkal. Si pengendar motor memberikan isyarat lalu si ibu dan anaknya bergegas menaikin motor tsbt. Hadeeeh saya ngalamin langsung deh…..apa yang saya baca n dengar sebelumnya.

Semenjak kejadian itu saya jadi malas untuk ngasih uang ke pengemis …Mungkin ga semua dari mereka penipu dan pemalas  mungkin memang ada yang benar – benar miskin dan tidak punya kesempatan bekerja. Tapi di otak saya sudah sudah terpola kalau mau sedekah lebih baik jangan ke pengemis. NANTI DULU deh.

Saya Jahat ? mungkin. Ngga Adil ? mungkin.Curigation ? jelas.Pelit ? ngga donk..kan saya bukan berhenti sedekah..hanya pindah aliran untuk menyalurkannya saja..

Mungkin ada yang ingat kalau dulu MUI pernah mengeluarkan fatwa haram memberikan uang pada pengemis ( Saya lupa detailnya apakah MUI lokal di jawa atau MUI pusat?). Logikanya fatwa dikeluarkan berdasarkan hasil diskusi panjang tentang manfaat dan mudarat yg dipandu oleh Alqur’an dan hadis.

Terus harus kemana donk kalau mau ngeluarin ZIS ?

Kalau saya nih lebih pilih untuk menyalurkan ke lembaga sosial yang memang sudah jelas status dan perijinannya. Gampang, aman dan Insya Allah menyakinkan karena biasanya diaudit keuangannya. Lembaga seperti ini sudah banyak kok seperti Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, Knrp, Merc. Nah karena saya nasabah Bank Muamalat, zakat bulanan ( orang gajian euuy) saya salurkan lewat Bank ini. Pakai phone banking  ngga nyampe 5 menit kewajiban tunai sudah ( bukan iklan 🙂 ).

Nah untuk yang sehari – hari saya dan keluarga lebih sering kasih ke tukang sapu jalan atau tukang sampah karena gampang ditemui. Dulu waktu tinggal di jakarta kami juga suka kasih ke penjaga lintasan kereta ( di tangerang ngga ada).

Mereka layak untuk diberi karena sudah jelas bukan pemalas. Menjaga kehormatan diri dengan tetap bekerja meski penghasilannya tidak seberapa.

Itu kalau saya, kalau anda sedekah kemana?