(Maju mundur) BISMILLAH

Maju mundur syantikkk… ahaaai seandainya hidup semulus syahrini tentunya semua keputusan akan mudah dibuat. mau maju .. mau mundur tetap syantikkkk ( Apalagi dese lari marathon kali ye ??lol). Sayangnya hidup lebih sering seperti warkop DKI yang maju mundur kena. Maju salah mundur juga salah!

Maju mundur versinya Warkop DKI ini yang saya rasakan dua tahun belakangan. Kalau teman-teman dekat saya pasti ngerti sebabnya, pokoknya kalau di kantor saya sudah kerja sambil pake headset atau nyetel lagu ngebeat yang mana satu lagu diulang seharian atau kalau lagi pasang DP BBM ini

151633-Whenever-I-Have-A-Problem-I-Sing

Atau kalau saya mulai PDKT kasak kusuk sama semua orang. Yes ,they know! My friends know. Itu tandanya saya lagi punya problem dengan most wanted profession. ART !!

Mau Tanya ke OB kantor,teman, tukang dagang keliling, ke saudara, keART tetangga. Mau cari ke kampung, ke makelar, ke yayasan ( gajinya beda tipis sama gaji diriku.hiks), ke gunung! Eh seriusan ini..pernah nyari ke gunung segala diriku..meski gunungnya di puncak Bogor sama Lembang Bandung sih ( ngga mau rugi bo! sekalian liburan). Hasilnya ..NIHIL

art

Kerja kantoran plus harus full pegang kerjaan rumah capeknya double , namun karena sudah 2 thn on off ngga ada ART akhirnya terbiasa juga. Meski kadang mewek, sensi plus galaknya minta ampun kalau capeknya tidak tertahan.

Tapi dalam dua tahun itu ada yang saya tidak kunjung jadi biasa, yakni perasaan bersalah ketika harus menitipkan anak ke mertua. Sedih sekali rasanya pagi- pagi kami harus memboyong si kecil ke mertua. Membawakannya baju dan makanan seadanya, menjemput anak-anak kala malam sepulang kerja. Gotong sini- gotong sana seperti barang.

Dan sesampainya dirumah baru saya keluar dari kamar mandi membersihkan diri, anak-anak sudah tidur dengan pulasnya di lantai ruang tv (Di rumah mertua ada sepupunya jadi mereka jarang tidur siang). Belum makan malam, belum belajar dan belum ISYA! Ya Allahūüė¶

Belum lagi jika harus memikirkan mertua yang sudah sepuh harus merawat cucu-cucunya. Total 7 orang cucu jika Aura dan el ikut dititip. Rasanya ko tidak manusiawi. Saya saja tidak akan sanggup kalau harus menjaga anak sebanyak itu

2 tahun dalam dilema. Tetap harus bekerja karena suami belum mengijinkan berhenti, karena meski off (ilang ART) lalu  on(dapat ART) lagi, dan pastinya karena masih banyak CICILAN !

cicilan

Berhubung gaji suami hanya cukup untuk kebutuhan RT dan semua jenis cicilan dibayar oleh pendapatan lain- lain suami. Makanya saya harus tetap kerja, sebagai buffer keuangan keluarga. Berdoalah saya kepada Allah, kira-kira seperti ini “Ya Rab,jika Engkau lebih ridho saya di rumah dan mengurus full kedua anak hamba. Mohon beri hamba waktu setidaknya sampai cicilan kami selesai dulu”

Lalu On lah, dan diawal 2015 cicilan kami sudah jauh berkurang. Tiba – tiba OFF lalu saya ingat doa saya, ketika “situasi Off”. apakah ini pertanda? Apakah Allah ingin menyindir saya..” Ayo Monic, mau kasih alasan apa lagi?”

Sulit untuk meyakinkan piko, butuh berkali2 diskusi dan pedebatan yang alot dengan piko, sampai akhirnya dia memberi ijin.

Tapi lebih sulit lagi bagi saya untuk meyakinkan diri sendiri. Rasa takut akan bosan di rumah,takut kehilangan pride wanita bekerja dan khawatir akan hal- hal yang sifatnya materil.

Berikut hal-hal yang menguatkan saya untuk berani memutuskan kembali di rumah :

  • Ada peristiwa di kantor yang membuat saya berpikir ulang tentang interaksi pria-wanita yang karena frekuensi (dan godaan setan tentunya) bisa berakibat fatal. Naasnya para pelaku peristiwa ini adalah orang yang (dulunya) saya hormati dan orang yang cukup dekat dengan saya. Selama 2 tahun merasa terbebani perasaan dosa karena harus menyimpan kecurigaan sampai akhirnya terjawab dengan peristiwa yang tidak mengenakkan.
  • (Tanpa mengurangi rasa syukur) Pekerjaan saya hanya pekerjaan biasa. Level menengah di perusahaan menengah dengan gaji yang juga ditengah-tengahūüôā Jika mau fair hitung2an buat apa penghasilan saya bekerja ( selain urgensi buffer cicilan) ya habisnya buat seneng2 ngga penting. Jadi kesannya saya kerja buat lari dari anak bukan buat anak. lah wong tidak ada major forcenyanya.
  • Karena gaji saya di tengah2 , saya pikir masih banyak alternatif buat saya untuk bisa dapatin uang segitu. Setidaknya setengahnya.hehe
  • Si kecil El sudah masuk TK, kalau off siapa yang bisa antar jemput dia sekolah? Apa harus Off sekolah juga?
  • Meski On Off, saya punya feeling kalau masalah ini adalah masalah abadi ( malah yakin kalau kedepannya akan lebih sulit). Kesel ngga sih? Kalau punya masalah satu tapi bertahun-tahun ngga solve!
  • ¬†Oleh karena Einstein bilang :”Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different result” Maka membuat terobosanlah saya dan memberanikan diri utuk Resign dan mencoba peruntungan lain. Bila bosan? gagal? atau takdir mengharuskan saya cari cari kerjaan lagi?

Well ..

I’VE GOT NOTHING TO LOSE

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Untuk menjawab ketakutan saya akan tulis detail disini

 

 

 

 

 

Note:

ditulis 3 januari 16

Resign 8 januari 16 (surat dr nov)

Terbit 29 feb 16

 

(MASIH) BELAJAR JUALAN

Saya sudah pernah cerita kan kalau dari 2014 lalu belajar jualan. Mulai buka lowprices @tokopedia , jualan sarung bantal kursi. Yang mana dari buka sampai awal tahun 2015 baru kejual 36 pcs.Hehe.
Eh tapi saya menganggap itu sebuah pencapaian loh. Pertama karena dengan adanya Lowprices merupakan satu langkah maju dari cita-cita saya saat ini yakni bisa menghasilkan uang dari rumah.
Kedua, dengan adanya Lowprices saya dapat banyak pengalaman dan pembelajaran baru. Antara lain tentang bagaimana menentukan harga jual, survey competitor (meski dalam tahap yang paling sederhana), cara packing, cara melayani.
Nah kisaran Februari atau Maret lalu, pas jam kantor piko telp saya. Memberitahu bahwa dia mentransfer sejumlah uang ke rekening saya. Saya sedikit kaget melihat jumlah yang ia transfer, LUMAYAN. Begitu ditanya untuk apa, dia bilang pakai saja untuk kamu belajar.Wow…kaget dan terharu . Kaget karena jumlah uangnya ( hehe. Yang ini agak lebay sih,karena mungkin bagi sebagian orang jumlah ini sedikit) dan terharu karena ternyata dia diam-diam memperhatikan usaha saya.
Merasa mendapat kepercayaan dan amanat saya langsung berpikir keras. Waduh bikin apa ya..saya harus bisa menggunakan modal ini sebaik-baiknya.
Akhirnya setelah cari ilham sana sini saya memutuskan untuk membuat line tas sendiri. Yang ada dalam pikiran saya adalah membuat produk tas untuk anak ‚Äď anak dengan konsep edukatif.
Karena masih tercatat sebagai pekerja luar rumah, saya tidak bisa leluasa hunting konveksi tas ataupun mendatangi pameran- pameran industri kreatif. Modal saya cuma internet dan kasak ‚Äď kusuk ke teman- teman.
Sempat hopeless karena diawal masa pencarian konveksi, tidak ada yang mau terima pesanan qty sedikit.Umumnya minimal 50 pcs. Sebagai pemula dengan modal terbatas MOQ seperti ini sungguh memberatkan. Sampai akhirnya melalui internet juga akhirnya saya dapat konveksi tas yang melayani boleh dibilang tanpa minimum order.
Konveksi sudah dapat , tahapan berikutnya adalah memikirkan design. Weew.. sebagai orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang desain dan minim nilai artistic tahapan ini sulit binggo. Lembur bikin design sampai tengah malam dengan kondisi rumah yang ngga ada pembantu itu..pejuangan yang menguras tenaga tapi syukurnya mengasikkan.
Design ( seadanya dan semampu saya ) sudah jadi, Pesan deh ke si pengrajin tas.kurang lebih sebulan menunggu (pake bawel ), akhirnya sample yang saya pesan jadi. Lumayan! Begitu saya melihat kualitas sample tasnya, jahitannya rapi, Bahan jg oke.
Sempat kasih lihat ke beberapa orang teman, untuk tes pasar dan meminta masukan. Alhamdulillah semuanya bernada positif.
Insya Allah,siap Untuk Mass Produce. Aura, El doain miko ya. Semoga dimudahkan,Bismillah

(not) Good Mom

23.06… Piko, Aura dan El sudah tidur.

Saya masih termenung dalam kamar dengan perasaan yang campur aduk antara marah,sedih dan rasa sesal.

2-3 jam yg lalu,saya bukan ibu yang baik. Saya menyakiti lahir dan batin anak saya..aura.

Sepulang kerja pembantu saya memberitahu kl kakak pergi ke rmh neneknya (kebetulan rumah kami cukup dekat).

Karena sudah sampai rumah segera saya bbm piko untuk menjemput,namun sayangnya dia tidak pulang cepat. Namun piko sudah meminta omnya aura untuk mengantar pulang.

Magrib berganti isya..belum ada tampak kepulangan Aura.

cemas,jengkel dan PMS

cemas karena besok masih hari sekolah, karena kakak belum belajar,belum makan ketika berangkat di rumah. Cemas, karena sekolah Aura cukup berat (secara fisik, berangkat subuh pulang sore) .

Jengkel karena semenjak pulang kerja el juga rewel dan cengeng. Sehingga saya tidak bisa menjemput kakaknya.

Lalu terjadilah…

Begitu aura sampai rumah meledaklah amarah saya.

Tone suara yang tinggi, kata kata yang menusuk.

Saya tunjuk keningnya,saya pukul pipi dan pantatnya.

Ya Allah saya tidak dapat membayangkan seperti apa Aura menandang saya saat itu. Pastinya saya lebih menakutkan ketimbang perubahan dr Banner menjadi hulk.

Bukan bukan pukulan yang menyakitinya karena semarah apapun pukulan saya tidak pernah menggunakan tenaga full ( anak saya sering menertawakan pukulan maupun cubitan saya) .

Kata kata sayalah yang saya yakin mencabik jiwanya.

Saya tau tapi tetap melakukannya (untuk kesekian kalinya…)

SUSAH sangat menjadi orang tua…saya ingat ada seorang teman yg bercerita karena sering dipukuli waktu kecilnya, ketika besar untuk sekadar bercerita ataupun bersandar (bermanja manja) saja dia merasa aneh dan sungkan.

Meski ketika besar teman saya itu akhirnya tau penyebab ibunya sering memukul.

Saya tidak mau itu terjadi pada hubungan kami, saya mau anak anak tau kalau saya mencintai mereka.

Aura ..El mama minta maaf jika dalam menjadi ibu masih jauh dari sempurna.

Ya Allah tolong bantu saya…

 

 

 14 april 15

menulis sambil memandangi Aura dan El

 

Tested,Failed and Learn (hopefully)

Awal Januari ini saya dapat rejeki. Rejeki yang 3-4 tahun lalu sempat saya idam – idamkan, yang 1-2 tahun lalu sudah saya lupakan. Lalu tiba- tiba dapat. Perasaan saya? Biasa aja.. wong sudah kelamaan dari saat pertama kali kepengen. Hehe. Entah kenapa saya malah merasa terbebani..mungkin karena merasa bahwa ini bukan suatu pencapaian, tapi bagaimanapun rejeki tetap rejeki, suatu nikmat yang patut disyukuri karena banyak hal baik menyertainya.

Maka ( mencoba) bersyukurlah saya, menyumbangkan sedikit dari yang saya punya untuk pembangunan masjid di kompleks. Dan karena ketika saya dapat rejeki itu diumumkan secara khusus pada suatu acara kantor  yang mana daripada (kalimat opo siih iki) bikin seluruh teman kerja tahu. Dan Nodong !!

Mau ngga mau.. ada ngga ada.. harus diadakan. Saya harus berbagi rejeki! Berbagi kebahagiaan ceritanya. .( which is i like the idea)

Disini UJiannya!

Dengan sisa uang yang ada, saya titip kue ke teman kantor yang kebetulan punya usaha tersebut untuk dibagikan ke teman-teman. Sebenarnya sih saya nitip karena saya terlalu malas untuk mampir ke toko kue dan bawa- bawa gembolan ke kantor. Jadi saya nitip ( yes i’m lazy)

Gara-gara malas, saya jadi kepikiran untuk ngetes sifat buruk lainnya. Ria! saya pengen tahu seberapa jauh saya bisa humble. Seberapa jauh saya bisa ikhlas saat memberi.

So, saya titip pesan ke teman saya agar jangan sampai ada yang tahu kalau kue itu dari saya. Teman saya menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Tidak ada yang tahu, dia Amanah!

Jadi Pagi hari ini ruang rekreasi kantor kami sedikit heboh. Heboh karena di Senin pagi yang dingin sehabis diguyur hujan ada aneka kue. Heboh karena teman- teman bertanya-tanya dalam rangka apa teman saya si pengusaha kue itu membagikan kue.

Sampai sini ?

Aman. Saya masih bisa tahan, masih bisa acting kegirangan ada yang bagi makanan.

Beberapa jam kemudian..

Teman saya itu BBM, ” Mba, aku ngga enak nih.. jadi banyak yang ngucapin selamat”.

 

Lalu saya galau.. saya iri, i want take some credits. Meski saya masih bisa membalas BBM dengan kata-kata ” ngga apa-apa mas..banyak yang doain kan bagus”.

Tapi saya mau!!! Saya mau didoain! Saya mau dengar kalimat – kalimat bagus ditujukan kepada saya.

Dan saya GAGAL!

Saya bercerita ke salah satu teman di dept saya, bahwa kue itu dari saya.

 

Masygul.

Saya gagal diujian sederhana ini. Beberapa lembar uang ribuan telah membuktikan kualitas saya. Tukang Pamer!

Saya mungkin pernah berhasil menyumbang tanpa ada orang yang tahu ( ke masjid misalnya), tapi itu kan karena saya tidak lihat reward instan (pujian dan doa) yang menyertainya. Begitu saya lihat ya gagal.

Kasih  sedikit berharap banyak.

Uang receh pengen ditukar doa!

Meski cuma ke satu orang, saya tetap gagal.

Ya Allah hinanya diri ini. Saya ingin jadi orang baik..bukan yang terlihat baik.

Simple test, yet i failed. Pelajaran berharga, smoga saya benar- benar belajar. Bismillah.

Kapan-kapan coba test lagi yuuk!

 

Note :

Lebih lengkap tentang ria bisa dibaca disini

 

 

Appendicitis Yeayy

Sekitar akhir Oktober lalu saya divonis appendicitis. Buat yang belum tahu appendicitis itu apa, monggo baca disini. Itu blog milik Dr.Lakshmi Nawasasi seorang dokter bedah yang isinya sangat informatif. Blog beliau satu – satunya ¬†hasil googling saya tentang usus buntu yang berisi penjelasan langsung dari pakarnya (dokter). Meski tidak kenal saya menaruh respek besar pada beliau. Beberapa kali bersinggungan dengan dokter, ¬†saya merasa dokter yang saya temui tersebut tidak cukup mengedukasi pasiennya. Lah saya yang bawel saja dokter – dokter tersebut memberi jawaban sekenanya apalagi terhadap pasien yang (maaf) pasif dan jauh lebih awam dari pada saya. Nah kok ini ibu dokter bisa sempat nulis2 blog segala (plus kasih no HP pula). Woow!!! 4 jempol deh buat ibu. Semoga diberikan kesehatan dan berkah dalam berkarya ya buūüôā

Hasil googling yang lain ? Biasanya berisi curhatan pengalaman orang Рorang yang pernah kena appendicitis. Oleh karena itu di  tulisan saya sekarang saya tidak akan meninjau appendicitis dari segi medis selain tidak kompeten kalaupun saya tulis hasilnya akan mirip Рmirip dengan tulisan di blog2 lain alias copas modif dikit.hee

Appendicitis? kok yeay ?  mari kita mulai.. ( ceritanya agak panjang nih)

Akhir oktober lalu saya merasa nyeri tumpul di perut kanan bawah. Sedikit doank, saya masih bisa beraktivitas seperti biasa.. tapi kok tiga hari ngga ilang2 ? nah loh. Terbiasa langsung browsing kalau badan agak yang dirasa tidak enak , nah nyeri yang saya rasakan menunjukkan gejala usus buntu. Setelah tanya sana sini akhirnya saya menuju rumah sakit langganan dan langsung konsul dengan dokter bedah, kebetulan dokter bedah yang sedang berpraktek saat itu namanya dr. Minanul Hakim SpB.

Rontgen Appendikogram

Oleh Dokter saya disarankan melaukan pemeriksaan appendikogram dengan rincian sbb :

Biaya : Rp 350.0000 ( kurang lebih ya…karena kwintasi langsung saya kasih kantor buat di reimburse.hehe)

Pelaksanaan :

Pertama saya melakukan rontgen kosong, tiduran dengan 4 gaya ( telentang,miring kiri,miring kanan dan telungkup).

Lalu oleh petugas radiologi saya diminta menebus suatu media yakni Barium sulfat ( yang berfungsi memberi kontras pada usus) Umumnya usus buntu letaknya tersembunyi oleh karena itu harus menggunakan Barium sulfat agar lebih berwarna ( hadeeeeh…hidup kalee berwarna)

Oh ya Barium sulfat ini rasanya tidak enak…jadi si mas petugas radiologi menyarankan untuk mencampurnya dengan air madu. Eh dasar emang saya jail saya tanya gini :

Saya ” Kalau madu boleh, sirup boleh dong ?

Radiolog : ” Eh…hm.. boleh bu.

Saya : ” Sirup Boleh berarti teh botol bisa ??! ( pasang muka serius)

Radiolog : “( Terpana)…( mikir) boleh deh ( keputusan terintimidasi).

Saya : ( Senyum kemenangan.Yeay)

Radiolog : “Nanti setelah 7 jam kembali lagi ya bu”. ( muka lega .. ngga harus berlama- lama ngurusin saya)

Malamnya saya rontgen lagi, dengan empat gaya yang sama seperti pagi tadi. Eh ada sedikit kesalahan yang saya  lakukan ( dan baru saya ketahui pas ketemu petugas radiolognya). Beberapa saat sebelum rontgen saya pup! Makanya kontrasnya tidak terlalu jelas alhasil foto 4 gaya tsbt diulang2 beberapa kali. Suer deh karena keseringan diulang saya berasa jadi foto model katalog mesin rontgen ( nyengir).

Keesokan sorenya saya kembali untuk ambil hasil rontgen, sambil langsung saya intip hasilnya : Cenderung Appendicitis

Nah lo .. ini appendicitis beneran apa ngga sih ? kok kesimpulannya pake kata “cenderung” segala sih??

USG

Setelah ngintip hasil appendikogram yang “aneh”, saya inisiatif untuk konsul ke ginekolog untuk USG ( kali aja hasilnya beda). Ketika konsul dengan dengan ginekolog langganan saya saya sempat berpikir untuk merahasiakan hasil rontgen saya dan hanya memberitahu ttg nyeri perut saja. Saya pengen tahu apa yang dideteksi oleh USG.

Bodohnya saya lupa kalau saya konsul dengan dokter yang bekerja di rs yang sama dengan dokter bedah saya..hehe.Lah rekam medik saya kebaca donk..Dokter Widya memberitahu bahwa rahim saya bagus tidak terlihat kista maupun myom ( yang bisa menimbulkan rasa sakit yang mirip dengna usus buntu) Perut saya dalam keadaan tenang katanya ( padahal sumpah mati perut saya saat itu lagi kelaparan..mana bisa tenang.wkwkw).

Balik ke Dokter Minan. (Setelah lihat hasil appendikogram) beliau memberitahu bahwa saya saya terkena appendicitis kronis. Memberitahu bahwa satu – satunya obat adalah operasi dan selama belum operasi ya bakal kambuh kambuhan terus.

Jadi dok ( tanya saya galau)? ¬†Ya terserah kamu mau operasi atau ngga ( Lah ini pak dokter bikin tambah galau)… yang penting saya sudah jelasin ( sambil dia nyoret2 ¬†rekam medis saya)

Trus saya pulang nih dok? ( silahkan). Ngga dikasih obat ? ( Ngga)…

Pulanglah saya dalam keadaan lapar (sangat) dan ¬†perasaan ‘tergantung”

 

Piko

Sampai rumah suami saya satu-satunya (ya eyalaaah) udah nunggu. mukanya teganggggg banget..Dasar jahil timbul keinginan untuk ngerjain dia. Saya pasang muka murung dan mencoba untuk diam. Selama beberapa lama Piko ngintil terus…nunggu depan kamar mandi pas saya mandi,ke kamar..nunggu saya makan. Sampai akhirnya dia nanya: ” Apa kata dokter neng?”

Appendicitis kronik han ( pasang muka murung). Doi bengong ngga ngerti…mukanya tegang plus sedih banget. Ha..ha.. (saya ketawa ngga tega) aku usus buntu han..harus operasi karena memang ngga ada obatnya tapi masih bisa ditunda kok. Nanti kalau sudah ada pembantu lagi aku langsung operasi ya…kasian sekarang anak- anak ngga ada yang jaga.

 

Mpok

Selepas lebaran haji kemarin saya memang tidak ada ast Rt lagi di rumah. Anak- anak sementara waktu diungsikan ke neneknya. Repot tak terkira ditambah rasa sedih lihat aura yang sedang ujian jadi tidak sempat belajar sama sekali wong sesampainya dirumah dia langsung tidur. dan juga merasa kasian lihat mama mertua yang sudah cape mengurus bapak mertua yang sedang sakit stroke harus ketambahan cape ngurus cucu.

Karena rempong saya tidak terlalu merasakan appendicitis saya..kalaupun sedang terasa sakitnya saya berdoa semoga Allah bisa memudahkan saya untuk dapat pembantu sehingga saya bisa segera operasi. Semoga usus buntu saya dapat bertahan….

Dan tiba – tiba di suatu Isya…Assalamu alaikum…datanglah mpok! Yeay.. Mpok adalah orang yang mengasuh saya sejak TK sampai kuliah.. Dia sudah seperti keluarga bagi kami. Mukjizat ! Kalau dipikir rasanya ngga mungkin dia bisa kerja lagi di rumah saya.

 

Operasi

Tanggal 3 November 2014

Sepulang kerja perut saya nyut-nyutan lagi dan sedikit mual..Tak lama piko pun pulang dalam keadaan tidak enak badan, rasa mual  dan sakit di perut yang sama dengan saya. Aura, el yang kami beritahu kondisi kami dengan dengan manis dan pengertian  tidak melakukan hal yang merepotkan. Mereka tidak mengganggu kami istirahat.

Tanggal 4 November 2014

Saya datang ke IGD RS langganan, langsung minta operasi.Dokter jaganya cukup funky sehingga saya tidak diinfus dan boleh keluar untuk jalan-jalan ke mall dekat RS ( yang akhirya saya cuma nongkrong ngebakso di ruko sebelah) sementara kamar inap saya sedang disiapkan ( wew… berasa lagi check in di hotel ini).

Mengambil kamar kelas II, trik lama saya pakai lagi. Kalau rawat inap di RS yang butuh tindakan. seperti dulu saat melahirkan ¬†saya sengaja mengambil kelas agak bawah. Jaga- jaga apabila ada faktor penyulit selama tindakan (maklum tunjangan medical saya limited) apabila tidak ada faktor penyulit selama tindakan baru saya pindah ke kelas I atau VIP untuk masa pemulihan. Tidak lain tujuannya agar saya bisa istirahat dengan baik dan tidak terganggu oleh ‘tetangga”

Selama di rumah sakit menunya bubur melulu..( syukur sebelum rawat saya sempat nongkrong di kios bakso dulu.hee)

bubur gurih

bubur gurih

cemilan..yeayy

cemilan..yeayy

Tanggal 5 November 2014

Jadwal operasi saya yang tadinya jam 4 sore dimajukan. Jam setengah tiga sedang asyiik2nya bercandaan sama piko tiba tiba datang perawat menjemput saya dan bilang kalau jadwal op saya dimajukan. Pasrah dan sedikit deg2an saya didorong dengan kursi roda dimasukkan ke ruang operasi. Sempat beberapa saat ‘nganggur’ karena nunggu dokter anastesi. Saya langsung iseng tebar tebar senyum ibu ¬†ke pasien pasca operasi yang ada disebelah saya. Si ibu yang pucat dan tidak bertenaga lalu mencoba untuk berbicara:

Ibu : ” Mau operasi mba?”

Saya :” Iya bu”.( sambil pecicilan naik turun tempat tidur)

Ibu : ” kok ngga kliatan..kayanya ko sehat banget.”

Saya : “Nyegir”

Ngga berapa lama itu ibu dipindahin sama perawat ( takut digangguin sama saya kali ya)

Masih nunggu beberapa saat..mencoba mengisi kebosanan dengan ngajak ngobrol dokter dan koasnya.Ngalor ngidul dari thriller Avenger sampai nodong dr Minan tentang apa yang mau dia lakukan pada saya.

 

Jam 3 sore, masuk kamar operasi…ditelanjangi…Saya protes, kenapa di kamar operasi isinya laki – laki semua siiiiih.Malu niih…si mas koas jawab kita mah udah biasa bu ( situ biasa…sini malu ama lemak.wkwkwk). Setelah cerewet protes2, saya dikasih bonus dengan didatangkannya perawat perempuan.Yeaaay

Tiba saat proses yang saya takutkan..bukan..bukan operasinya..yang saya yakin tidak kerasa sakit karena sudah dibius. Tapi justru suntik biusnya yang bikin deg2an (ada beberapa teman yang punya pengalaman ngga enak pas suntik anastesi. Sakiiiit !! katanya). Setengah telanjang saya diminta duduk membungkuk, perawat perempuan memberikan bantal untuk saya peluk sambil memegang erat tangan saya. Lalu punggung saya disemprot cairan dingin. Setengah nge joke saya bilang wah berasa jadi pemain bola nih disemprot2 begini. Bodo amet deh lucu apa ngga..saya ini orangnya paling ngga bisa dalam situasi tegang.

Eh ternyata ngga sakit kok..Yeay. Saya lalu ditidurkan kembali ke meja operasi..mulai kesemutan..tapi saya tetap iseng coba coba gerakin kaki. Perawat bilang saya suntik obat penenang ya bu. Saya jawab Morfin ya mas (sotoy) . Perawat jawab; mirip bu..sambil nyebut suatu zat yang belakangnya ada fin finnya juga.

Datanglah dokter Minan, mulai operasi. Senyap..ngga ada musik… ngga ada yang ngajak saya ngobrol saya pula. bawellah saya …nanya – nanya (kan udah saya bilang saya ngga bisa tegang). Sampai akhirnya ada yang bisikin saya..Bu, diam dulu ya…biar dokternya bisa kerja.Hmm.. ya udah saya ngeliatin jam didinding aja deh.Pasrah.

Jam 4 saya didorong ke ruang pemulihan di beri selimut listrik penghangat ( tapi tetep ngga hangat). Clingak clinguk..Trus beberapa saat kemudian ada dua orang pasien yang masuk lagi.Satu bapak2 dan satunya lagi anak gadis (Gadis ? kaya tahu aja saya).

Si bapak2 ngorok kenceng banget..sampai saya ketawa2 sendiri gara – gara inget piko. Nah si anak gadis ini yang agak mengkhawatirkan selama beberapa saat tubuhnya diguncang-guncang ¬†dibangunkan oleh perawat tapi ko itu anak ngga bangun2. Eh kenapa…merindinglah saya mana si anak gadis ditidurkannya deket banget lagi dengan saya. Setelah 3-4 kali diguncang baru si gadis bangun.

Si Gadis menengok ke saya sambil merintih..mba aku sakit…aku ngga kuat..dengan suara lirih terputus – putus. Weew…merinding. Lagsung saya panggil perawatnya kenceng2. Masssss..ini si mba kesakitan katanya….

Tidak lama si mba didorong menjauh dan tirai saya ditutup (reputasi iseng saya sudah kebaca kayanya). Iseng ngga ada kerjaan dan dianggurin.. saya coba gerak- gerakin kaki masih ngga bisa euy. Saya colek – colek eh kok paha saya lembek banget kaya ager ( akibat suntikan penenang otot).

Jam 5 saya dikembalikan ke ruang rawat ( udah naik kelas I) . Sendirian bisa istirahat. Sama sekali tidak merasa sakit ( atau belum?)

bekas sayat diperban

bekas sayat diperban

dibuka..wakwaw..alhamdulillah imut

dibuka..wakwaw..alhamdulillah imut

 

appendicnya gendut..seksi skali.hee

appendicnya gendut..seksi skali.hee

ini dia si usus mampet

ini dia si usus mampet

Roomate

Keesokan paginya tempat tidur disebelah saya dibereskan ada yang mau masuk katanya. Beberapa jam kemudian masuklah seorang ibu kira – kira berumur menjelang 60an. Belia masuk karena vertigo.

Baik saya maupun si ibu tidak ada yang nunggu, maka dimulailah perbincangan kami. Tentang penyakit, tentang keluarga dan tentang pengelolaan uang.

Dari awal pembicaraan, saya menilai si ibu bukan wanita biasa dan ternyata benar beliau dulunya wanita pekerja pensiunan bank BNI. Tanpa merendahkan IRT saya selalu merasa wanita yang bekerja pasti punya nilai beda dengan IRT.

Pembicaraan paling menarik adalah tentang keluarga, beliau memiliki kisah yang 90% mirip dengan almh mama saya. ¬†Caranya ‘menghandle’ anak – anak, perjuangannya agar anak – anak selalu akur meski kadang harus berbohong. Pengorbanannya untuk anak-anak. Saya seperti melihat mama saya pada tubuh yang berbeda. Lah kok ndilalah Allah kasih dia jadi teman sekamar saya , Sekamar dengan beliau membuat saya merasa ditemani mama. Dan ini saya yakini mempercepat proses penyembuhan saya.

Dari si Ibu saya juga banyak dapat pelajaran, tentang menyikapi perbedaan, tentang bakti istri kepada suami, tentang financial planner ( si Ibu ditinggal alm suaminya setelah 6 bulan stroke di rs yang menghabiskan banyak uang) single parents yang tetap bisa membiayai hidup sampai tua. Sampai jurus ampuh beliau yakni ilmu sedekah dan tidak mengharap kembali ( namun yakin pasti mendapat balasan dari Allah dalam bentuk yang tidak kita sangka).

Banyak wisdom si Ibu yang ingin saya tiru..mudah2an kesampaian ya Allah.

Tanggal 6 November 2014

Dokter Minan visite dan nyuruh saya duduk. Yeaaay…saya udah nunggu – nunggu nih dari pagi. Segeralah saya duduk tanpa susah payah. Pak dokter langsung bilang., ” Ya kalau ngga ada yang dirasa besok pulang saja.” Double yeaaaaay

Tanggal 7 November 2014

Saya Pulang, total biaya yang harus saya keluarga untuk appendicitis ini 12 juta ( untuk rs menengah dan kelas 1 worthed lah).

 

Sampai sini.. sudah “ngeh” kenapa saya kasih judul appendicitis yeay ?

Belum ?

Coba hitung deh berapa kata yeay yang saya tulis ( sudah di bold tuh)

Masih banyak yeay lain yang belum saya ceritakan misalnya yeay ternyata pas saya operasi piko tertular cacar dari Aura. Loh suami cacar kok yeay ??

Yeay donk, soalnya kita tadi pikirnya piko sakit usus buntu juga secara yang dirasa sama seperti yang saya ¬†rasa. Ternyata ‘cuma’ cacar.

Yeay donk…gara -gara cacar piko bisa libur dan nemenin anak-anak di rumah ( sesekali ke RS nemenin saya). Kantor piko kan susaaaaaaaaaaaah banget kasih ijin ngga masuk ( dasar penjajah!hehe).

 

Yang paling YEAY adalah Allah kasih banyak kemudahan dalam kesulitan yang sedang saya alami ini. Tiada yang lebih nikmat selain orang yang sedang diguyur hujan namun tetap bisa menari dalam hujannya.

Yeay itu bunyinya.. Alhamdulillahnya dalam hati.

Ya Rabb semoga Engkau berkenan memberi kami kemampuan untuk optimis dan  bersyukur dalam keadaan apapun. Aamiin.

 

Alhamdulillah

 

Buat yang sedang sakit..semangat dan berdoa selalu yaa

 

Little Things That Make Me Happy ( n Grateful!)

Dear Aura dan El,

Miko berharap (dan mendoakan) ketika kalian besar nanti dan menjalani hidup sebagai orang dewasa, kalian akan bisa mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup sehingga kalian akan selalu bahagia (Aamiin).

Here are things that make  me Happy

( diurut berdasarkan ingatan bukan bobot kebahagiaan dan akan terus bertambah)

1. Lahir sebagai muslim ( mudah2an  meninggal sebagai muslim juga)

2.Dibesarkan di keluarga yang utuh oleh orangtua yang lengkap

3. Berkesempatan untuk sekolah.

4.Diterima kerja

5. Menikah ( Menikah itu ibadah..mendapatkan jodoh yang baik berkah)

6.Punya Anak ( secute aura dan el..mudah2an bisa jadi kebanggaan dan kunci surga miko piko)

7.Punya kantor deket rumah ( pergi pulang masih lihat matahari..semales apapun berangkat tidak akan terlambat)

8.Lihat Aura dan El yang selalu akur dan saling jaga sejak kecil

9.Lihat Piko bercanda sama anak – anak

10. Punya suami yang bisa bikin istrinya batal marah  walau dalam keadaan sejengkel apapun.

11.Meski ngga pernah merasakan sholat yang khusuk..tapi selalu bahagia bisa ‘ngobrol’ sama Allah

12.Sehat

13. waktu Aura pertama kali bisa bicara kata-katanya “IBU”

14. Gandengan tangan sama aura kalau lagi tidur ( kalau pegang tangan kakak ..miko tidurnya ngerasa aman..lucu yaa padahal kan seharusnya miko yang jagain kk)

15. Sneak out malam2 sama piko, nyari makanan kaki lima kalau anak – anak sd tidur.

16. Nyemil Chiki

17. Punya waktu sendiri untuk baca ( atau nulis) tanpa diganggu

18. Nyam Es Salju di Pasar Baru

19.Eyelash kissesnya piko ( cuma miko yang punya)

20. Gibig – gibig ( ciuman idung/gesek gesek idung) sama aura dan el

21. Kalau bisa bayar kreditan sebelum jatuh tempo.hee

22.Menghayal

23. Ditelpon teman.

24. Kalau masak dan makanannya habis dimakan.

25.Doin somethin new..

26.

And so on…

Anak- anakku:

“Set your goals high but never your standart of happiness”.

Nikmatilah setiap hal hal kecil dalam hidupmu,syukurilah.Inshaa Allah bahagia slalu.

Note: eh itu quotes ori by emakmu ini looh

 

 

KE PUSKESMAS YUUK

Karena batuk yang berkelanjutan hampir sebulan padahal sudah habis 2 botol obat batuk, berarti sudah saatnya aura ke dokter. Pagi tadi ketika sudah di boncengan Pinky hendak bersiap-siap berangkat ke rumah sakit langganan tiba tiba Aura minta untuk berobat ke Puskesmas saja. Apa ? ke Puskesmas…Hmm..Boleh juga. Saya belum pernah memperkenalkan anak-anak ke Puskesmas. Si Mpok yang mendengar permintaan Aura, sempat komentar ‘ngapain ke puskesmas kak? nanti rame antrinya lama, mending ke S..R. As.H saja sambil dia menyebut rumah sakit langganan keluarga kami.

Mumpung Aura yang kepengen, plus penyakitnya tidak terlalu berat, double plus ingin menambah pengalaman anak-anak maka saya memutuskan untuk mencoba mendatangi Puskesmas terdekat dari Rumah kami.

Sesampainya di Puskesmas saya tidak perlu banyak tanya dan bengang bengong lagi…karena di Puskesmas tempat kami sudah banyak rambu-rambu penjelasannya.Segera saja saya menghampiri loket pendaftaran, Oh ya loket pendaftaran dibagi dua. Satu untuk pasien lama, satunya lagi untuk pasien baru dan pasien lama yang tidak membawa kartu berobat.

 

puskesmas jatiuwung

tampak Depan Puskesmas

Alur berobat cukup jelas

pengalaman ke puskesmas

pengalaman ke puskesmas

 

Diloket saya ditanya nama orang yang berobat, umur dan keluhan penyakitnya lalu kami diminta untuk menunggu panggilan dokter(?) disisi samping kanan gedung. Sambil menunggu saya lirik kiri dan lirik kanan mengamati Puskesmas ini. Untuk kualitas kebersihan saya memberikan satu jempol karena Puskesmasnya cukup bersih ( relatif ya ukuran bersihnya Fasum untuk masyarakat menengah bawah) . Didinding bangunan ada tempelan hiasan yang cukup edukatif seperti dibawah ini 

zoom version

Aura sedang mengamati

 

di zoom

Dan ada pojok tanaman obat namun tidak sempat saya ambil gambarnya.

Penasaran karena antrian saat itu tidak sesesak yang saya bayangkan, saya tanya ke ibu-ibu disebelah : ” Bu, ini antriannya tidak terlalu banyak yaaa…?” Si ibu menjawab ” Kalau Sabtu memang sepi kok”..

puskesmas jatiuwung

puskesmas jatiuwung terlihat lengang

Hmm…ok. kalau RS langganan saya hari Sabtu malah berjubel.Berarti kalau puskesmas kebalikannya.

Sekitar 15menit dari mendaftar nama Aura di panggil Ke ruang pemeiksaan. Dalam ruang pemeriksaan berjejer meja periksa, ada 4 meja kalau tidak salah. Aura diminta duduk lalu ditanyakan keluhannya.Saya menjawab batuk lalu tenaga medis tersebut mengambil stetoskop dan mulai memeriksa Aura. Oh ya saya menyebutnya tenaga medis yaa.. karena saya tidak yakin kalau yang memeriksa di Puskesmas tadi dokter atau bukan. Lalu kami diberi resep yang dapat ditebus di apotek yang berada di sisi kiri gedung. Kurang dari sepuluh menit nama Aura sudah dipanggil dan diberikan 3 macam obat: antibiotik, Obat radang dan Obat batuk.

obat

obat

 Obatnya tablet semua.. kalau kaka ngga bisa minum alamat berobat lagi ke rumah sakit niih.

Keluar dari Puskesmas Lapangan sudah penuh tukang jajanan dan anak- anak SMP. Dasar tukang jajan …tergodalah saya.Bukannya langsung pulang.. saya malah membujuk anak-anak sambil setengah memelas. Mam dulu ya kak… laper nih mama belum sarapan. Eh tumben2nan kaka mau diajak nongkrong pinggir jalan.¬†

 

makan pinggir jalan

makan pinggir jalan

 

Lapangan depan kecamatan di penuhi anak-anak SMP, ternyata lapangan tsbt dipakai demo ekskul oleh salah satu  SMP di dekat situ. Dari announcement yang saya dengar sambil makan ada 14 jenis ekskul yang akan didemokan ke murid2 kelas 7. Keren juga ya sekolah negeri sekarang..

demo ekskul

demo ekskul

Kami sempat nonton 2 ekskul yang di demokan di awal yakni Karawitan dan pencak silat. Aura dan El baru pertama melihat kedua jenis kesenian ini, sedangkan saya……jarang jarang juga sih bisa lihat yang kaya begini.Hee

Jpeg Jpeg 

Bocah dua itu seantusias saya menyaksikannya..

  

Total uang yang saya keluarkan ke Puskesmas hari ini  Rp. 86.500

Laminating kartu berobat Rp.2.500

Mie ayam Banyumas Rp.19.000

Beli Buah-buahan Rp.65.000 ( pepaya  California,duku dan jeruk)

Biaya Berobatnya ? GRATIS.yeayyyy… Indonesia sudah keren euy sekarang minimal fasilitas medis awal seperti puskesmas ini gratis dan bebas pungli ( Saya saksi hidupnya niih).

 

Gratis, Tambah pengalaman dan Gembira karena ternyata kesehatan rakyat Indonesia sudah mulai terjamin.

Another Great Day ! Splendid.

Alhamdulillah.

 

special note :

Gigi aura yang sudah otek copot pas makan mie ayam

ompong lagee

ompong lagee